Kontroversi MLM di Lingkungan Masyarakat

Kontroversi MLM di Lingkungan Masyarakat

Icaap10 –¬†Istilah MLM atau Multi Level Marketing merupakan hal yang sering kita dengar di dunia pemasaran. Banyak sekali orang Indonesia yang melakukan metode pemasaran berjenis MLM untuk menjual produknya. Walaupun sering kita dengar istilah ini, pengertian multilevel marketing dalam istilah lain disebut dengan istilah pemasaran berjenjang, yang mana banyak yang belum banyak diketahui orang. Menurut sambutan penulis, selama ini banyak orang Indonesia yang mempraktikkan metode pemasaran ini, namun kurang begitu memahami teori Multi Level Marketing itu sendiri. Penulis akan mengulas tentang konsep multilevel marketing (MLM) kali ini.

Kebingungan sering terjadi dalam hal pemasaran berjenjang (MLM) dan money game. Pemasaran berjenjang (MLM) pada dasarnya adalah sistem distribusi barang. Jumlah bonus tersebut didapat dari omzet penjualan yang didistribusikan oleh jaringan yang dapat menjual produknya. Sebaliknya, uang bonus dalam game diperoleh dari perekrutan anggota baru, bukan dari omset penjualan. Masalah dengan membedakan pemasaran gabungan permainan uang adalah karena bonus diterima dalam bentuk kombinasi dengan kombinasi tertentu dari bonus rekrutmen dan komisi omset penjualan. Sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa ada unsur kesamaan antara kedua hal tersebut.

Sistem permainan uang cenderung menggunakan skema piramida (atau skema Ponzi), dan akan sulit untuk mengembangkan bisnis mereka. Meskipun mungkin memiliki banyak bawahan, tanpa omset, ini jelas bukan bonus. Informasi jenis pemasaran yang tepat dapat mengacu pada Permendag 32/2008 yang mengatur tentang persyaratan suatu MLM. Bisnis MLM, misalnya, perlu memiliki aliran distribusi yang jelas dari bisnis ke pelanggan akhir. Pesanan dan bonus atas penjualan produk yang diberikan kepada mitra bisnis dan jaringan pemasaran di bawah ini maksimal 40 persen dari total nilai penjualan produk.

Permasalahan dalam pemasaran berjenjang (MLM) di Indonesia kerap terjadi ketika sistem komisi mengarah pada permainan uang. Iuran keanggotaan bawahan secara virtual dibagi menjadi komisi promotor, sementara harga komoditas menjadi terlalu tinggi untuk menutupi pembayaran komisi kepada promotor. Dalam jangka panjang hal ini membuat komisi tidak seimbang, dimana komisi telah melebihi harga barang dikurangi harga produksi.

Perbedaan Antara Pemasaran Multi Level Dan Bisnis Reguler

Menurut Clothier (1994), terdapat perbedaan yang berbeda antara bisnis multi level marketing dan bisnis konvensional, yaitu sebagai berikut:

  • Tim penjualan. Dalam MLM, tenaga penjualan adalah distributor, mereka mempekerjakan diri sendiri dan menjadi bos bagi diri mereka sendiri. Sedangkan usaha konvensional harus melalui arus barang melalui distributor produsen / pedagang grosir-pengecer konsumen.
  • Bagi hasil. Di MLM, distributor mendapatkan reward dari perbandingan langsung bisnis yang mereka lakukan. Sedangkan pada kasus biasa yang menerima keuntungan adalah para pemilik dan direktur dari berbagai perusahaan distribusi. Sangat jarang pengecer memanfaatkan keuntungan, tidak peduli seberapa superior dan keras mereka bekerja.
  • Jual produk. Semua penjualan MLM dilakukan melalui penjualan langsung atau penjualan langsung. Sedangkan bisnis konvensional menjual barang konsumsi melalui toko, katalog dan poster.

Ada beberapa tips memilih perusahaan MLM untuk Anda yang diharapkan dapat dikelola secara efektif dan efisien. Carilah perusahaan multi level dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Dapatkan dukungan (di bidang keuangan dan pemasaran) dari perusahaan terkemuka.
  • Memiliki reputasi internasional.
  • Memiliki visi dan misi yang jelas.
  • Memiliki produk unggulan.
  • Miliki rencana pemasaran yang menawarkan keuntungan jangka pendek dan jangka panjang

Kesimpulannya, jika ingin gabung ke dalam bisnis MLM, pilihlah produk yang tepat seperti Forever Healthy Indonesia